Keringanan Berpuasa untuk Ibu Hamil (dan menyusui)

Assalamu’alaikum..

Alhamdulillah.. Puji syukur atas nikmat yang Allah berikan. Bulan puasa tahun ini ada nikmat tersendiri, dimana istri saya memasuki bulan ke 9 kehamilannya. Insya Allah tinggal menghitung hari.  Hari pertama kuat dilalui sampai pada hari kelima, tetapi menjelang hari ke enam dirasakan tendangan & gerakan jabang bayi  terasa makin melemah.  Setelah curhat via telp (maklum istri udah mudik duluan :mrgreen: ) akhirnya kami putuskan sementara tidak usah berpuasa dulu untuk jaga-jaga agar tidak terjadi apa-apa dengan jabang bayi.  Benar juga setelah hari berikutnya istri saya tidak puasa Gerakan & tendangan jabang bayi kuat lagi seperti kemarin. Alhamdulillah, mungkin kemarin ikut lemes karena ibunya puasa. 🙂

Sebelum memutuskan untuk tidak berpuasa & menggantinya nanti setelah bulan ramadhan saya sempat konsultasi dengan saudara (yang diteruskan bertanya ke guru ngaji dikampung)  & cari info ke mbah google terlebih dahulu, Alhamdulillah memang ada keringanan untuk Ibu hamil & menyusui untuk tidak berpuasa di bulan ramadhan. berikut keterangannya :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.

Akan tetapi memang ada perbedaan pendapat antara ulama tentang penggantian puasanya :

Al Jashshoh rahimahullah mengatakan, “Para ulama salaf telah berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat. ‘Ali berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib qodho’ jika keduanya tidak berpuasa dan tidak ada fidyah ketika itu. Pendapat ini juga menjadi pendapat Ibrahim, Al Hasan dan ‘Atho’. Ibnu ‘Abbas berpendapat cukup keduanya membayar fidyah saja, tanpa ada qodho’. Sedangkan Ibnu ‘Umar dan Mujahid berpendapat bahwa keduanya harus menunaikan fidyah sekaligus qodho’.”

Pendapat terkuat adalah pendapat yang menyatakan cukup mengqodho’ saja. Ada dua alasan yang bisa diberikan,

Alasan pertama: dari hadits Anas bin Malik, ia berkata,

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.

Al Jashshosh rahimahullah menjelaskan, “Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir. Para ulama tidak ada beda pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka tidak dibolehkan mengqoshor shalat. … Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. … Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqodhonya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Dari sini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka berpuasa) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak merinci hal ini.”

Perkataan Al Jashshosh ini sebagai sanggahan terhadap pendapat yang menyatakan wajib mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.

Alasan kedua: Selain alasan di atas, ulama yang berpendapat cukup mengqodho’ saja (tanpa fidyah) menganggap bahwa wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit. Sebagaimana orang sakit boleh tidak puasa, ia pun harus mengqodho’ di hari lain. Ini pula yang berlaku pada wanita hamil dan menyusui. Karena dianggap seperti orang sakit, maka mereka cukup mengqodho’ sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 184)

Pendapat ini didukung pula oleh ulama belakangan semacam Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Bazrahimahullah. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Hukum wanita hamil dan menyusui jika keduanya merasa berat untuk berpuasa, maka keduanya boleh berbuka (tidak puasa). Namun mereka punya kewajiban untuk mengqodho (mengganti puasa) di saat mampu karena mereka dianggap seperti orang yang sakit. Sebagian ulama berpendapat bahwa cukup baginya untuk menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang benar, mereka berdua punya kewajiban qodho’ (mengganti puasa) karena keadaan mereka seperti musafir atau orang yang sakit (yaitu diharuskan untuk mengqodho’ ketika tidak berpuasa, -pen). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 184)

Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qodho’. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk mengqodho’ di hari lain ketika ia tidak berpuasa. Namun apabila mereka tidak mampu untukk mengqodho’ puasa, karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. Pada kondisi ini, ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah, dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya.

Catatan penting yang perlu diperhatikan bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika memang ia merasa kepayahan, kesulitan, takut membahayakan dirinya atau anaknya. Al Jashshosh rahimahullahmengatakan, “Jika wanita hamil dan menyusui berpuasa, lalu dapat membahayakan diri, anak atau keduanya, maka pada kondisi ini lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan terlarang bagi keduanya untuk berpuasa. Akan tetapi, jika tidak membawa dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak, maka lebih baik ia berpuasa, dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa.

Monggo disharing bila mas & mbak ada pendapat lain atau pengalaman lain, maklum saya masih nyubi 🙂 .

Terima Kasih

Wassalamu’alaikum.

dari berbagai sumber

7 tanggapan untuk “Keringanan Berpuasa untuk Ibu Hamil (dan menyusui)

  1. pernah dengar pengajian, katanya cukup fidyah saja buat ibu hamil dan menyusui.
    dengan alasan begini: kalo tahun pertama, hamil 9 bulan, tahun kedua menyusui 1 tahun, tahun ketiga menyusui 1 tahun. anggap saja hutang 90 hari. kalo nyicil puasanya tahun keempat, dikurangi hari berhalangan tahun itu, puasa 2 hari sekali selama 1 tahun, dah ketemu ramadhan. kan berat banget nyicilnya, apalagi kalo hamil anak kedua, tambah hutang lagi.
    jadi bingung deh

    Suka

  2. setuju sama bro Anton Nugroho… Tahun sekarang hamil, lanjut tahun berikutnya menyusui, tidak memutup kemungkinan tahun berikutnya masih menyusui atau hamil lagi, maka keringanan bagi wanita hamil atau menyusui untuk membayar fidyah tanpa mngqodho karena dari tahun ketahun ada halangan syar’i. Sebaiknya fidyah dilaksanakan harian alias hari ini tidak berpuasa maka berikanlah makan kepada fakir/miskin seperti si wanita makan hari itu, misal saat bersaur dan berbuka. Wallohua’lam

    Suka

  3. @anton : wahh.. terima kasih mas sharingnya nambah ilmu, coba nanti saya konsultasikan lagi & rembugan 🙂

    @mas tri : sipp mas terima kasih sharingnya nanti saya konsultasikan lagi, sementara ini pikir saya bila tahun depan kemungkinan kondisi ibu sudah normal biarpun sedang menyusui karena usia anak sudah agak besar (+/- 1 tahun). 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s