Iklan
jump to navigation

[opini] Pabrikan berlomba menelurkan Motor High Power (Moge) dan Banyak kasus kecelakaan, Bagaimana Solusinya..? 14 Agustus 2014

Posted by sijidewe in otomotif.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Bro & sist sekalian.. Dimedia kita sering kali di sodorkan tentang informasi mengenai Kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh Pengendara dibawah umur atau usia sekolah. Dan sering juga mungkin kita lihat di jalan khusunya daerah saya tinggal (cikarang), para ABG dengan baju seragam sekolahnya bersliweran dengan sepeda motor tanpa mempedulikan lingkungan sekitar serta tanpa perlengkapan berkendara (tanpa helm).

r15-crash-2

Ditambah lagi saat ini Pabrikan sepeda motor berlomba-lomba menelurkan produknya yang High Tech High power dengan berusaha menekan harga serendah mungkin. Disekitaran saya sendiri banyak ditemui ABG seperti yang saya tulis pada paragraf pertama, menggunakan motor sekelas Ninja250, CBR150/250, mungkin sebentar lagi Yamaha R25 pun akan menjadi tunggangan mereka. dan Saat ini pun pabrikan mulai memasarkan Moge nya.

Kita tidak bisa menyalahkan mereka dan orang tua, karena disini kita hanya sebagai konsumen yang jika punya uang ya sudah belilah apa yang dimau.

afjwhh

Nah dari kasus-kasus diatas saya semua amat sangat berkorelasi.. Apa ya pemerintah tidak melakuakan regulasi demi menyelamatkan calon penerus bangsanya..? Saya mempunyai pemikiran hanya sekedar opini pribadi, bagaimana kalau dibuatkan sistem yang mengatur semua ini..?

Menerapkan sistem Pembuatan Sim Berjenjang seperti yang dilakukan di Eropa.

 

Sedikit mengutipinformasi Pembuatan SIM (Surat Ijin MEngemudi) di Eropa dari tmcblog.com, bahwa pembuatan sim disana sangat susaj dan berjenjang mulai AM, A1, A2 sampai A20130221_Duitlagiduitlagi_1

AM itu adalah Sim awal dimana pengendara hanya bisa mengendarai Skuter/moped dengan kubikasi mesin nggak boleh lebih dari 50cc dan kecepatan nggak boleh dari 45 km/jam. minimum usia adalah 16 tahun

A1 adalah sim lanjutan AM dengan syarat lulus AM  . . . motornya harus 1 silinder dengan kapasitas nggak boleh lebih dari 125 cc dan power tidak boleh melebihi 11kW  . . . Nah peraturan ini lah yang membuat di Eropa motor beginernya pakai 125 cc, bukan 150 cc

A2 adalah sim motor lanjutan dari A1 dengan pembatasan power motor nggak boleh lebih dari 35kW dan Power to weight rationya nggak boleh lebih dari 0,2 kW/kg . . . nah motor apaan nih . ..  sejenis Ninja 300r masuk yaa . .. oh ya minimum usia untuk A2 adalah 19 tahun

A adalah kasta sim eropa paling tinggi dengan pembolehan mengemudikan motor dengan power diatas 35 kW  . . .

alay naik motor 6

Nah banyak bukan Bro & sist sekalian, dan pastinya sanga rumit cara testnya. denger-denger rekan yang pernah tinggal disana, pembuatan SIM bisa memakan waktu hingga 4 Tahun. Nah lo.. Tentunya dengan sistem penjenjangan seperti ini, bisa melatih kedewasaan dan pola pikir si biker.

Yaa just my opini mas bro & sist, alias unek-unek. karena sering miris melihat semrawutnya jalanan dan ngeri melihat abg seragam putih biru sudah mbejek gas di jalanan yang kejam. bagaimana pendapat panjenengan sekalian..?

Wassalam

Iklan

Komentar»

1. Kobayogas - 14 Agustus 2014

Bisa kalau mau konsisten..masalah di negara kita ini konsistensi…

http://kobayogas.com/2014/08/13/sneek-peek-gillera-runner-vxr-di-gedung-otomotif-group/

Suka

sijidewe - 15 Agustus 2014

konsisten itu mahal jendral

Suka

2. rizkyrm - 14 Agustus 2014

pemeriksaan sim aja jarang sama polisi.

Suka

sijidewe - 15 Agustus 2014

hihi.. tanggal tertentu mas

Suka

3. wijayanto - 14 Agustus 2014

setuju om, sebetulnya key point ada di lingkungan rumah (bimbingan orang tua) & Pihak satlantas, dalam hal ini mereka yang punya sistem penerbitan SIM, Sistem secanggih apapun akan tetap gak berguna jika si pelaksana sistem masih “mata duitan”.

Suka

sijidewe - 15 Agustus 2014

nah ..

Suka

4. bennythegreat - 14 Agustus 2014

Seleksi alam itu. Survival of the safest. Biarken aja.

Sent from HTC One M7 Sprint

Suka

sijidewe - 15 Agustus 2014

walah.. nunggu punah ya om 😆

Suka

5. st3v4nt - 14 Agustus 2014

Apapun yg paling ampuh ya penegakan hukum….selama sanksinya ringan dan safety dianggap main2 ya selama itu juga bakal ada kejadian

Suka

6. Maskur - 15 Agustus 2014

sing tanggung jawab sing mroduksi shockbreker

.
.
.
.
..
.
.
.
.

.

mlayuuuuuuuuuu

Suka

sijidewe - 15 Agustus 2014

tanggung jawab yang bikin jalan dong 😆

Suka

7. Anonim - 23 Oktober 2014

disini libih mudah dengan SIMsalabim 😀

Suka

8. penulisopini - 24 Juli 2015

kalo menurut saya ya, indonesia ini masyarakatnya sendiri aja yang masih kurang dewasa. kalo dikasih aturan sim berjenjang gitu malah gak akan efektif. orang yang 1x aja masih banyak banget yang gak punya, punya pun pake embel-embel “males tes” dsb, disuruh 4x?? kaya banget dong satlantas nanti. dari pemerintah pun udah membuat peraturan tentang syarat-syarat punya SIM, tapi ketika orang yang gapunya SIM ketangkap ngendarai motor, polisi cuma bilang “mau sidang atau titip sidang?” titip sidang pun cuma 100rb kalo yang di surat tilangnya. yaudah gak akan pernah jera orang-orang, jawabannya “masih males ngurus SIM”. disisi lain, dari orang tua juga gaboleh “gak bisa disalahkan”, anak-anak mereka ya tanggung jawab mereka. anak belum waktunya bisa naik motor, masih belum bisa kontrol diri, belum bisa jaga diri buat amannya sendiri, kok udah dibelikan motor gede? kepedean anaknya dewasa sebelum waktunya?? yaini. opini aja

Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: